Ketika Pak Habibie Sedih, kapan negara ini akan maju .. ???

Pak Habibie tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ia sangat kecewa dan bahkan menangis menyaksikan kondisi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang bertahun-tahun dibangunnya dan telah menjadi kebanggaan bangsa runtuh begitu saja. Seperti kertas, kebanggaan itu disobek-sobek dan ditiup angin politik dan kebencian.

Belasan ribu pegawai, yang dahulu begitu sibuk menyelesaikan pesanan ratusan pesawat untuk militer Korea Selatan, Pakistan, Uni Emirat Arab, Turki, Malaysia, Brunei, Thailand, dan Filipina, serta memenuhi pesanan komponen pesawat Airbus dan Boeing, kini terlihat sepi. Sekitar lima ribu karyawan dirumahkan.

Ribuan tenaga ahli, yang dididik di sekolah-sekolah terkemuka dunia, kini lebih dihargai dan dibayar mahal di Eropa, Amerika, dan Asia. Mereka mencari hidup di negara-negara itu negara yang menempatkan teknologi sebagai jalan ke masa depan. Di sini, di negara ini, ketika politisi lebih dibutuhkan, maka para ahli itu dianggap sebagai pemimpi, orang-orang yang tidak berpijak di bumi.

Pak Habibie menanam benih. Anak-anak bangsa itu yang disebutnya sebagai Anak Dirgantara disekolahkan untuk kemudian ketika pulang mereka menjadi kekuatan dahsyat bangsa ini. Ia akan jadi air bah, seperti Kaisar Meiji melakukan restorasi. Melalui anak-anak muda itu, Pak Habibie merancang masa depan bangsa ini, bangsa yang bermartabat, memiliki harga diri, dan mandiri.

Pak Habibie percaya, hanya dengan sumber daya manusia yang tangguh, terdidik, dan penguasaan teknologi, bangsa ini bisa dibangun, bukan dengan terus-menerus menguras sumber daya alam, yang sangat terbatas. Ia menghitung, bangsa besar ini akan kehilangan kesempatan untuk merebut masa depan jika terus menggantungkan diri dari industri kelontong sebutan untuk relokasi industri garmen yang tidak kompetitif dan berpindah-pindah ke negara lain karena gaji buruh murah.

Bertahun-tahun Pak Habibie memperjuangkan masa depan bangsa modern, yang berbasis teknologi. Benih-benih yang ditanamnya, industri strategis itu, dalam kondisi yang menyedihkan, dapat juga tumbuh dan bahkan ada yang berbuah. Namun, orang-orang lebih suka bertengkar tentang warna buah itu, membahasnya dalam perspektif politik, bukan pada khasiat buah itu.

Pohon untuk masa depan yang telah berbuah itu tidak hanya dibiarkan kering, tapi juga ditebang. Pak Habibie menangis, tapi ia tak punya kekuatan untuk menahan orang-orang berpikiran pendek, instan yang lebih suka mendapatkan sesuatu dengan segera, para broker yang memperjual-belikan bangsa ini, dan para petualang.

Pak Habibie sedih, bukan karena karya-karyanya tidak dihargai di negeri sendiri, tapi karena bangsa ini melupakan kepentingan masa depannya. Bangsa tanpa rencana masa depan akan selalu menjadi bangsa terbelakang, tak mandiri, dan terombang-ambing oleh negara lain dengan segala kepentingannya. Negara seperti itu tidak akan pernah menjadi tuan. Ia selalu berada dalam perintah dan tekanan tanpa henti.

Pak Habibie tak menginginkan itu. Ia berharap bangsa ini memiliki harga diri, kuat, dan tidak dalam perintah sang majikan. Namun, ia harus menerima kenyataan bangsa ini lebih senang dalam tekanan dan menutup peluang untuk menjadi tuan. Atas nama pembangunan, sering sekali kita menghancurkan tak peduli itu untuk masa depan anak-anak bangsa. Pak Habibie jangan bersedih. Bangunlah. Tanah untuk pohon-pohon masa depan itu tumbuh, kini sudah mulai berubah.

Sumber : http://www.facebook.com/topic.php?uid=43104463092&topic=7064

One response to “Ketika Pak Habibie Sedih, kapan negara ini akan maju .. ???

  1. sabar ya pak Habibie….., indonesia masih maju koq. IPTN masih ada, hanya kepanjangannya saja yang berganti diubah menjadi Industri Pembantu Terkemuka Negara …..
    Dahulu mukanya berjerawat, karena sering cium sepatu….. Jika dulu ekspor pesawat, sekarang ekspor pembantu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s